Wafatnya Kiai Besar, Pemimpin Tarekat Terbesar di Indonesia
Surabaya - SURYA-Ribuan Orang Berdesakan Mensalatkan Kiai Asrori ,Pemimpin aliran tarekat terbesar di Indonesia, Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, yakni KH Ahmad Asrori El-Ishaqi RA, berpulang ke hadirat Allah SWT, Selasa (18/8) pukul 01.30 WIB dini hari, setelah lama berjuang melawan berbagai penyakit.
Berita kematian itu begitu cepat menyebar. Sejak subuh, lautan manusia terus mengalir ke Kedinding Lor 99, Surabaya. Itu alamat rumah sekaligus pondok pesantren (ponpes) milik sang kiai. Karangan bunga duka cita juga terus mengalir ke kompleks seluas 3 hektare itu. Bahkan ucapan bela sungkawa dalam karangan bunga juga datang dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan hampir seluruh menterinya. Juga Gubernur Jatim Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Bachrul Alam, hingga Kapolda Sumut Irjen Pol Badrodin Haiti.
Bentuk bela sungkawa lain juga terlihat di kompleks Ponpes Assalafi Al-Fithrah. Orang-orang datang dengan meneteng beras dan gula. Di depan pintu ponpes, beras dan gula itu ditumpuk. Hingga tengah hari, jumlah beras itu sudah sampai sekitar 5 karung besar. Ini belum termasuk gula.
Puluhan ribu orang berdesak-desakan mengalir masuk ke masjid gagah yang ada di tengah kompleks ponpes. Jamaah berpakaian putih-putih ini antre menjadi makmum salat jenazah berjamaah yang nyaris tidak pernah putus. Semua berlomba berdiri di barisan paling depan –barisan yang dekat dengan jenazah. Semua menangis haru bahkan sampai jenazah dimakamkan.
Jenazah dikubur di tengah-tengah masjid lama kompleks ponpes. Masjid ini sekarang jarang terpakai karena sejak 15 tahun lalu dibangun masjid yang lebih besar di bagian timur kompleks ponpes.
Semakin siang masjid besar itu tidak mampu menampung jamaah. Tempat parkir kendaraan meluber sampai sekitar dua kilometer. Lihatlah plat nomornya, mobil yang kebanyakan bus dan bak terbuka itu datang dari Malang, Lamongan, Banyuwangi, Kedu, Semarang, Jogjakarta, Cirebon, bahkan dari Jakarta.
Direktur Pendidikan Ponpes Al Fitrah, Wisjnu Broto, mengatakan KH Asrori meninggalkan seorang istri bernama Hj Sulistyowati, dan lima orang anak (2 laki, 3 putri). Yakni, Siera Annadia, Sefira Assalafi, Ainul Yaqien, Nurul Yaqien dan Siela Assabarina.
”Kiai sudah empat tahun sakit. namun tidak pernah dirasakan,” ujar Wisjnu.
Sakit itu kambuh lagi ketika ponpesnya mengadakan Haul Akbar pada 25-26 Juli 2009 lalu. Kesehatan kiai menurun karena kelelahan. Pada 29 Juli Asrori dilarikan ke RS Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya. Namun pada 16 Agustus 2009, Asrori meminta pulang. Namun sehari kemudian malaikat maut menjemputnya.
Sampai Asroti meninggal, tidak ada yang tahu berapa usia pastinya. Banyak orang hanya mereka-reka bahwa usianya antara 58, 59 tahun hingga 60 tahun. Wisjnu sendiri mengaku tidak tahu.
“Beliau sebenarnya belum begitu tua, karena usianya tidak terpaut terlalu jauh dengan usia Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi. Namun Kiai Asrori telah mampu menyatukan umat dari seluruh Jawa hingga Jakarta dan Asia Tenggara lewat tarekat. Kalau ceramah, beliau sangat menyejukkan,” kata Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah (PW) NU Jatim, KH Abdurrahman Navis Lc yang didampingi Wakil Sekretaris PW NU Jatim, HA Sujono di sela-sela melayat, Selasa (18/8) kemarin.
“Kami kehilangan ulama dan guru yang aktif mengembangkan ajaran ‘Ahlussunnah wal Jamaah’ melalui tarekat,” imbuh Navis.
Gubernur Jatim Soekarwo, yang melayat siang kemarin, juga mengaku kehilangan. “Saya mengenal beliau begitu tulus dalam beribadah. Sepertinya sulit mencari penggantinya,” katanya.
Asrori begitu kharismatik, dia dipercaya menjadi pemimpin atau mursyid aliran tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, yang merupakan aliran tarekat terbesar di Indonesia.
Asrori adalah putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri.
Semasa hidup, Kiai Utsman adalah guru/mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah.
Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas. Diyakini, tarekat ini sebagai pengawal Islam sufi.
Jamaahnya sampai ratusan ribu dan menyebar hingga di Brunei Darussalam, Singapura hingga Malaysia.
Kiai Asrori mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor pada tahun 1990-an. Ponpes itu dijalankan dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning.
Kata Wisjnu, para santri Al-Fithrah yang tinggal di asrama saat ini sebanyak 1.800 dan yang berada di luar asrama sampai ratusan ribu.
Asrori menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Bahkan pengaruh jamaah itu menembus batas negara.
Jamaah dan sang kiai ini begitu disegani karena sifatnya yang inklusif. Ia tidak pernah bersinggungan dengan dukung mendukung politik praktis. Padahal, kediaman Kiai Asrori kerap dihadiri tokoh- politik dan pejabat negara, termasuk Presiden SBY./Kuncarsono Prasetyo

0 komentar:
Poskan Komentar